Puji Tuhan, tidak terasa minggu ini kehamilan saya tepat menginjak usia 8 bulan alias 32 minggu. Tak ada kata-kata lain selain ungkapan terus bersyukur kepada Tuhan karena telah diperkenankan menerima anugerah besar ini dari-Nya.
Sungguh rasanya hingga saat ini saya masih sering kali dihinggapi rasa tidak percaya karena pada akhirnya saya bisa merasakan indahnya masa-masa kehamilan selama 8 bulan ini. Puji Tuhan dari awal masa kehamilan hingga usia 8 bulan ini kehamilan saya berjalan lancar, bayi yang saya kandung sehat dan relatif tidak mengalami masalah yang berarti.
Kehamilan pertama ini benar-benar kado terindah dari Tuhan di ulang tahun pernikahan kami yang jatuh pada tanggal 14 Juli 2009 yang lalu. Setelah menunggu 2 tahun lamanya akhirnya Tuhan berkenan memberikan anugerah paling indah ini bagi kami berdua.
Kami menikah pada tanggal 14 Juli 2007 di Palembang. 1 bulan setelah menikah, suami ‘meninggalkan’ saya jauh ke ‘negeri londo’ alias Belanda untuk melanjutkan study S2-nya di Wageningen University. Sementara saya tetap di Palembang, kami menjalani hubungan jarak jauh selama 2 tahun lamanya.
Menginjak usia 1 tahun pernikahan, keinginan saya untuk segera menimang bayi mulai menggebu, akan tetapi sempat terlintas kekuatiran di benak saya apakah saya bisa hamil? Mengingat selama ini siklus haid saya sering tidak teratur dan sudah beberapa kali sejak SMP saya sering berkonsultasi ke dokter kandungan. Walaupun secara medis kandungan saya di nyatakan sehat, namun kekuatiran itu tetap ada.
Pada bulan Agustus 2008 saya kembali berkonsultasi ke 2 dokter kandungan yang berbeda untuk kembali memeriksakan kandungan saya, pada saat itu suami masih belum pulang. Kedua dokter tersebut menyatakan kandungan saya dalam keadaan baik-baik saja.
Tanggal 13 november 2008 suami pulang liburan ke tanah air selama 3 bulan lamanya. Akhir november 2008 kami berdua terbang ke Bali, menikmati ‘bulan madu yang tertunda’ mengingat setelah menikah kami berdua belum sempat ber ‘hanimun ria’ dikarenakan kesibukan suami mengurus persiapan keberangkatan ke Belanda.
3 bulan suami di Palembang, saya tak kunjung hamil. 5 Februari 2009 suami berangkat kembali ke Belanda. Keinginan yang sempat menggebu untuk segera hamil sedikit demi sedikit mulai memudar. Waktu itu saya mulai pasrah dan berpikir bahwa mungkin saat itu belum saatnya bagi saya untuk hamil.
Setelah keberangkatan kembali suami, pikiran saya mulai ‘teralihkan’ pada persiapan keberangkatan saya ke Belanda pada tanggal 21 Mei 2009. Sibuk mengurus paspor dan visa kunjungan ke Belanda membuat pikiran saya untuk segera menimang bayi pun teralihkan.
Pada saat akan mengurus visa kunjungan saya ke Belanda, saya berkenalan dengan jeng Khoirin Nisa, Istri dari sahabat suami di Belanda. Saya banyak bertanya pada jeng Khoirin perihal proses pengurusan visa karena dia pernah berpengalaman menyusul suaminya ke Belanda.
Ada satu kata-kata dari jeng khoirin yang saya ingat dia bilang gini, “ Mbak Stefani, menurut orang jawa katanya kalo istri yang terbang nyusul suami kalo istri belum hamil katanya bakal hamil loh..tapi kalo suami yang terbang malah gak jadi..mudah-mudahan mbak Stefani bisa nyusul saya yang langsung hamil begitu pulang dari Belanda” waktu itu saya hanya tertawa saja sambil berkata “ Amien…doain aja ya..biar bisa nyusul mbak Nisa hehehe”
Dan pada tanggal 21 Mei 2009 saya terbang seorang diri ke Belanda, selama 3 bulan saya berada di Belanda mendampingi suami yang kala itu sedang berjuang menyelesaikan Thesisnya. Awal Juni 2009 kami berdua melakukan perjalanan ke kota Paris selama 7 hari lamanya. Ceritanya sih ‘hanimun jilid kedua’ hehehe. Awal Juli 2009 saya juga berkesempatan mendampingi suami mengikuti Simposiun Internasional PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) di Den Haag selama 3 hari lamanya.
Banyak pengalaman yang saya dapatkan selama 3 bulan berada di Belanda, termasuk pengalaman menjadi ‘Ibu Rumah Tangga seutuhnya’ mengingat selama di Belanda, itulah kali pertama saya dan suami benar-benar tinggal berdua.
Memasuki bulan Juli 2009 saya mulai di hinggapi kekuatiran karena sudah hampir 2 bulan lamanya saya tidak mendapatkan haid. Waktu itu saya sama sekali tidak berpikiran bahwa saya hamil, saya malah sempat berpikir yang tidak-tidak, bahwa jangan-jangan kandungan saya kembali bermasalah. Saya lalu menelepon mama di tanah air, mama lalu menyarankan saya untuk segera ke dokter kandungan. Menurut Mama, mumpung lagi di Belanda coba sekalian aja periksa kandungan saya, mengingat teknologi medis di Belanda pasti lebih canggih ketimbang di Indonesia, begitu kata Mama.
Namun saat itu saya dan suami sempat bingung waktu mau memeriksakan diri ke dokter kandungan di sana mengingat Wageningen itu kota yang kecil, mau nyari dokter kandungan dimana…Seorang teman lalu menyarankan saya agar periksa ke dokter umum dulu, waktu itu saya sempat diledekin oleh seorang teman, “Jangan-jangan kamu hamil tuh..” waktu itu saya menjawab “ Ah gak mungkin…”
Tanggal 15 Juli 2009, sehari setelah ulang tahun pernikahan kami yang kedua, saya dan suami akhirnya pergi ke dokter umum setempat, setelah menceritakan permasalahan yang saya hadapi, oleh dokter tersebut saya hanya di sarankan untuk membeli dulu alat test pack kehamilan, karena ada kemungkinan saya hamil.
Waktu itu saya hanya tertawa saja dan belum terbersit sedikitpun di pikiran saya bahwa saat itu saya sudah hamil. Pulang dari dokter tersebut, saya dan suami langsung menuju ke Apotik terdekat untuk membeli test pack kehamilan yang dijual seharga 8,30 Euro kalau di rupiahkan setara dengan Rp 120.350.
Keesokan harinya, tanggal 16 Juli 2009 saya dan suami berangkat ke pulau Texel (salah satu pulau yang berada di wilayah Belanda) untuk mengunjungi sahabat kami, Mbak Selvy yang tinggal di sana. Dikarenakan tanggal 16 itu saya lupa melakukan test pack, baru tanggal 17 Juli 2009 saya melakukan test pack saat kami sedang berada di Texel.
Orang pertama yang mengetahui kehamilan saya justru malah bukan suami, melainkan 2 orang sahabat kami yang saat itu juga sedang bersama kami di Texel, yaitu Tia dan Mathias (Thias). Dikarenakan saya tidak memahami bahasa belanda, sedangkan penjelasan yang ada di alat test pack itu semua dalam bahasa Belanda. Waktu itu saya sempat bingung, tanda ini positif atau negatif ya..?. saya lalu menyerahkan alat test pack tersebut kepada Mathias yang asli ‘bule londo’ setelah melihat dan membaca penjelasan yang ada di test pack tersebut, dengan wajah tersenyum lebar Mathias lalu mengucapkan selamat kepada saya “ Kamu hamil..!”

Sata bengong dan tidak percaya mendengar kata-kata dari Mathias. Saya lalu segera membangunkan suami yang kala itu masih terlelap untuk menyampaikan kabar menggembirakan itu. Suami pun kaget mendengar berita menggembirakan itu. Kami berdua sama-sama gak percaya J
Namun di hati saya masih saja terselip keraguan, bener gak sih hasil test pack ini? Jangan-jangan salah lagi..Hati saya masih saja belum yakin kalau saya sudah hamil. Seorang teman menyarankan kepada saya untuk memeriksakan diri ke Klinik khusus kebidanan yang ada di kota Wageningen, untuk di periksa dengan USG untuk memastikan kehamilan saya.
Tanggal 27 Juli 2009 saya dan suami pergi ke klinik khusus kebidanan yang ada di dekat centrum (pasar) yang ada di Wageningen. Setelah di periksa dan di USG oleh bidan, saya baru 100% yakin bahwa saya telah mengandung dengan usia kehamilan 8 minggu.


Semua keraguan yang ada di benak saya langsung hilang, betapa bahagianya hati saya kala itu ketika bidan menyatakan bahwa saya akan melahirkan pada bulan Maret 2010.
Bagi saya bayi yang saya kandung ini adalah janin yang tahan uji.., betapa tidak..awal Juni 2009 saya sempat jatuh dari sepeda, lalu ketika sedang berada di Paris, saya sempat kecapekan berjalan kaki menyusuri kota Paris selama 7 hari lamanya, pernah pula saya bersepeda bersama dengan mbak Vivi dan kak Meis dari kota Wageningen menuju kota Ede yang menempuh perjalanan sekitar 1 jam lamanya. Dilanjutkan dengan awal Juli saya pernah bersepada bersama teman saya Janne dari kota Noordwijk ke kota Leiden dengan perjalanan kurang lebih 2 jam lamanya, saya pun sempat terserang diare ketika sedang mengikuti Simposium Internasional PPI Dunia awal Juli yang lalu. Dan yang tak kalah menghebohkan di usia 10 minggu kehamilan saya pernah berlari-lari naik turun tangga menyusuri Bandara Internasional Kuwait (untung aja bandara nya gak segede Bandara Frankfurt di Jerman, tapi tetep aja bikin lemas ngelilinginya) saat sedang menempuh perjalanan pulang ke Indonesia, heboh karena saat itu saya sedang mengejar pesawat yang akan membawa saya kembali ke Jakarta, dikarenakan keterlambatan pesawat yang saya tumpangi dari Frankfurt Jerman, saya hampir saja mengalami kisah di tinggal pesawat :p Itulah yang membuat saya merasa Amazing bahwa janin yang saya kandung masih kuat bertahan dan tabah dibawa oleh saya kemana-mana, mengalami pertualangan tak terlupakan di Eropa.. terima kasih Tuhan..
Di awal-awal kehamilan pun saya tidak begitu mengalami masalah yang berarti, mual-mual memang sempat saya rasakan di usia 2-3 bulan kehamilan tapi itu pun tidak begitu parah. Nafsu makan saya tetap normal-normal saja. Ngidam pun tidak yang aneh-aneh, paling di usia 3 bulan kehamilan saya sempat terobsesi dengan Sate Padang. Untuk saat itu saya sudah berada di Indonesia, sehingga mudah bagi saya untuk mendapatkan sate padang, coba saja kalau masih di Belanda..wah pasti repot bagi saya untuk menemukan masakan tersebut. J
Menginjak usia kehamilan 5 bulan saya sempat terserang penyakit cacar, bayangin udah tua gini baru kena cacar L, waktu itu suami memang sudah kembali ke tanah air, namun sedang berada di Jogja. Untung saja sakit yang saya alami itu tidak berpengaruh ke janin saya.
Boleh dibilang selama 8 bulan usia kehamilan saya ini, hanya sebentar saja saya didampingi suami, sebagian besar saya lalui tanpa kehadiran suami. Karena saat ini suami berada di Jogja, sedangkan saya masih berada di Palembang hingga usai proses persalinan . Namun pengalaman 2 tahun di tinggal oleh suami ke Belanda telah membuat saya lebih kuat dan tegar menjalani masa kehamilan ini walaupun tanpa kehadiran suami di samping saya.
Ya walaupun tidak bisa diingkari, secara psikologis ketidakhadiran suami pada masa kehamilan kadang terasa berat. Saya punya pengalaman lucu ketika sedang memeriksakan diri ke dokter kandungan. Karena suami sedang tidak ada di samping saya, pada saat kontrol ke dokter kandungan, saya selalu di antar dan di temani oleh orang tua saya (terutama oleh Mama), nah pada saat itu mama sedang tidak bisa menemani saya, sehingga saya diantar oleh bapak saya pergi ke dokter kandungan, dan oleh perawat yang bertugas di dokter kandungan tersebut, ia menyangka bapak saya itu adalah suami saya J
Puji Tuhan saya memiliki orang tua yang hingga saat ini masih mensupport dan memberi perhatian yang terbaik bagi saya, sehingga saya tidak pernah merasa sendirian walaupun suami tidak bisa hadir di samping saya.
Kini dalam hitungan 4-6 minggu kedepan saya akan menjadi seorang Ibu.., rasanya sudah gak sabar lagi untuk mendengar tangis bayi itu..hari-hari penantian menjadi terasa amat panjang J. Perasaan kuatir akan proses persalinan mulai menghampiri diri saya, namun suami senantiasa menguatkan hati saya, meyakinkan diri saya untuk tidak perlu kuatir menghadapi proses persalinan nanti, dengan memberi keyakinan bahwa segala sesuatunya nanti pasti akan berjalan dengan lancar.
Semoga saya bisa menjalani saat-saat menjelang proses persalinan ini dengan hati yang tenang dan semoga Tuhan senantiasa memberkati dan melindung bayi yang saya kandung ini hingga pada saat nya nanti dapat lahir dengan selamat dan sehat.
Mohon doa nya, ya…!